..

Dibutuhkan segenap kerendahan hati untuk memahami sesuatu bernama misteri.

Tentangmu.

Malammu kali ini tampak kelam.

Kau pasti kelelahan hingga lupa memasang rembulan.

Mata kita belum sempat saling berkaca,

tirai malam sudah kau bentang.

Aku tahu senyummu tak pernah kadaluarsa.

Dalam pejammu rindu lirih menyapa.

Tanpa sepatah kata pun kita sepakat,

segala gelisah sudah dituangkan malam pada kegelapan.

tahajud

malam ini alifmu bergetar dalam darahku. saat kuberanikan diri mengembara mencarimu. aku.
sebutir debu yang sibuk memburu peradaban. kini luruh pada semesta mahamu. demi dosa
yang menggelinjang dalam perjalanan iqra’ku.
ijinkan kuketuk pintu ijabah. padamu yang lebih dekat
dari urat leherku. amin.

Badai dalam secangkir kopi

Menatap badai dalam secangkir kopi

: Gelisah menggulunggulung pekat.

Harap membumbungbumbung asap.

Jika kau kuteguk tandas,

bersamakah kita, Ragu?

Pencarian

Kembaraku pada secangkir malam.

Meneguk tandas semesta sunyi,

hingga jauh tersesat dalam diri.

Di manakah Engkau dari bermilyar atom cahaya?

Cacing

Pria itu terlahir dengan nama Irfan. Namun hampir semua orang di komplek rusun kami memanggilnya Cacing. Mungkin karena postur tubuhnya yang kurus, tinggi sekaligus berkulit kelam. Pagi itu, Pak Engku, tetangga kami tampak kebingungan mencari-cari sesuatu. Pak Gaya, petugas kebersihan yang tengah menyapu segera menghampirinya.
“Nyari apa Pak Engku?”
“Saya nyari Cacing.”
“Nanti deh kalo ketemu saya kasih tau” ujar Pak Gaya sambil melanjutkan pekerjaannya.
“Makasih ya..” kata Pak Engku sambil berlalu pulang ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Cacing melintas di tempat tersebut. Pak Gaya pun spontan memberitahu maksud Pak Engku. Meski terheran karena merasa tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, Cacing segera bergegas ke rumah Pak Engku. Sesampai di rumah orang tua tersebut, Pak Engku tengah membersihkan sangkar burung miliknya. Dengan mimik yang serius, Cacing segera menghampiri Pak Engku.
“Pak Engku mencari saya ?”
Namun Pak Engku justru terlihat heran dengan kedatangan Cacing.
“Nggak koq..”
“Lho.. Tadi Pak Gaya bilang Pak Engku nyari saya” jelas Cacing yang kebingungan.
Pak Engku seketika mengetahui apa yang tengah terjadi.
“Ooooo.. tadi saya memang nyari cacing, tapi bukan Cacing kamu. Tapi cacing buat makan burung.”
“Kamu mau jadi makanan burung saya!”

 

..

Coklat panas dan hujan deras. Seperti rindu dan pelukanmu.

..

Perempuanku. Tak penting kau tidak mengenalku kini. Kau punya waktu seumur hidupku untuk melakukannya.

Soliloqui

tak juga kutemukan dirimu. dalam
selembar cermin. yang retak
oleh penanggalan. mungkin tersesat
di riuh kembara, lembar kitab suci, pula keheningan.

kau. aku.
di manakah? siapakah?
sejak dari rahim aku mencarimu.

Surat Untuk Isteriku Kelak.

Isteriku kelak,

Mungkin engkau masih terserak di antara rahasia-rahasia Tuhan. Tetapi kelak jika engkau menerima pesan ini maka ketahuilah bahwa engkau adalah anugerah terindah hidupku.

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya manusia 
biasa. Saat ini aku punya pekerjaan.
 Tapi aku tidak tahu apakah nanti aku akan tetap punya pekerjaan. Tapi
 yang pasti aku akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi
 kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.

Aku memang tinggal di kontrakan.
 Dan aku tidak tahu apakah nanti akan kontrak selamanya atau memiliki rumah idaman yang indah. Yang pasti, 
aku akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak aku tidak kepanasan
 dan tidak kehujanan.

Aku hanyalah manusia biasa, yang punya banyak
 kelemahan dan beberapa kelebihan. Aku menginginkan kamu untuk
 mendampingiku. Untuk menutupi kelemahanku dan mengendalikan
 kelebihanku.

Aku hanya manusia biasa. Cintaku juga cinta biasa.
 Karena itu, aku ingin kau membantuku memupuk dan 
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Aku tidak tahu apakah kita
 nanti dapat bersama-sama sampai mati atau tidak. Karena aku tidak tahu suratan
 jodohku. Yang pasti aku akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami yang baik.

Kelak kenapa aku memilihmu?

Aku mungkin tidak akan pernah tahu kenapa aku memilihmu kelak. Yang aku tahu, kita nanti akan dipertemukan Tuhan. Lalu aku
 memillihmu untuk melengkapi diriku.

Aku
 tidak akan menjanjikan apa-apa. Aku hanya berusaha sekuat mungkin
 untuk menjadi manusia yang lebih baik dari saat ini. Usaha tersebut akan berjalan baik saat kau mendampingiku.

Istriku kelak, sempurnakan hidupku!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.