..
Dibutuhkan segenap kerendahan hati untuk memahami sesuatu bernama misteri.
Dibutuhkan segenap kerendahan hati untuk memahami sesuatu bernama misteri.
Malammu kali ini tampak kelam.
Kau pasti kelelahan hingga lupa memasang rembulan.
Mata kita belum sempat saling berkaca,
tirai malam sudah kau bentang.
Aku tahu senyummu tak pernah kadaluarsa.
Dalam pejammu rindu lirih menyapa.
Tanpa sepatah kata pun kita sepakat,
segala gelisah sudah dituangkan malam pada kegelapan.
malam ini alifmu bergetar dalam darahku. saat kuberanikan diri mengembara mencarimu. aku.
sebutir debu yang sibuk memburu peradaban. kini luruh pada semesta mahamu. demi dosa
yang menggelinjang dalam perjalanan iqra’ku.
ijinkan kuketuk pintu ijabah. padamu yang lebih dekat
dari urat leherku. amin.
Pria itu terlahir dengan nama Irfan. Namun hampir semua orang di komplek rusun kami memanggilnya Cacing. Mungkin karena postur tubuhnya yang kurus, tinggi sekaligus berkulit kelam. Pagi itu, Pak Engku, tetangga kami tampak kebingungan mencari-cari sesuatu. Pak Gaya, petugas kebersihan yang tengah menyapu segera menghampirinya.
“Nyari apa Pak Engku?”
“Saya nyari Cacing.”
“Nanti deh kalo ketemu saya kasih tau” ujar Pak Gaya sambil melanjutkan pekerjaannya.
“Makasih ya..” kata Pak Engku sambil berlalu pulang ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Cacing melintas di tempat tersebut. Pak Gaya pun spontan memberitahu maksud Pak Engku. Meski terheran karena merasa tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, Cacing segera bergegas ke rumah Pak Engku. Sesampai di rumah orang tua tersebut, Pak Engku tengah membersihkan sangkar burung miliknya. Dengan mimik yang serius, Cacing segera menghampiri Pak Engku.
“Pak Engku mencari saya ?”
Namun Pak Engku justru terlihat heran dengan kedatangan Cacing.
“Nggak koq..”
“Lho.. Tadi Pak Gaya bilang Pak Engku nyari saya” jelas Cacing yang kebingungan.
Pak Engku seketika mengetahui apa yang tengah terjadi.
“Ooooo.. tadi saya memang nyari cacing, tapi bukan Cacing kamu. Tapi cacing buat makan burung.”
“Kamu mau jadi makanan burung saya!”
Isteriku kelak,
Mungkin engkau masih terserak di antara rahasia-rahasia Tuhan. Tetapi kelak jika engkau menerima pesan ini maka ketahuilah bahwa engkau adalah anugerah terindah hidupku.
Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya manusia biasa. Saat ini aku punya pekerjaan. Tapi aku tidak tahu apakah nanti aku akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti aku akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.
Aku memang tinggal di kontrakan. Dan aku tidak tahu apakah nanti akan kontrak selamanya atau memiliki rumah idaman yang indah. Yang pasti, aku akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak aku tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Aku hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Aku menginginkan kamu untuk mendampingiku. Untuk menutupi kelemahanku dan mengendalikan kelebihanku.
Aku hanya manusia biasa. Cintaku juga cinta biasa. Karena itu, aku ingin kau membantuku memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.
Aku tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati atau tidak. Karena aku tidak tahu suratan jodohku. Yang pasti aku akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami yang baik.
Kelak kenapa aku memilihmu?
Aku mungkin tidak akan pernah tahu kenapa aku memilihmu kelak. Yang aku tahu, kita nanti akan dipertemukan Tuhan. Lalu aku memillihmu untuk melengkapi diriku.
Aku tidak akan menjanjikan apa-apa. Aku hanya berusaha sekuat mungkin untuk menjadi manusia yang lebih baik dari saat ini. Usaha tersebut akan berjalan baik saat kau mendampingiku.
Istriku kelak, sempurnakan hidupku!